Sebagai jiwa yang kerap gagal,
saya sering melepas.
Menyerah karena takut hidup akan terasa berat.
Tapi ternyata memang ada hal-hal
yang harus dibiarkan lekat di sisi.
Menemani perjalanan lekuk, riuh, pijar, redup di semesta ini.
Saya tak punya banyak orang istimewa
Tapi saya memilih beberapa orang untuk berjalan bersama.
Meski saya berlari dan dia berkendara, tak apa.
Saya mau menjalani getir, lekuk, riuh, pijar, redup, gulita, gemuruh belantara hidup bersama-sama.
Meski beda lajunya.
Untuk kita yang sudah berjalan bersama,
Terima kasih sudah melewati sukar belukar
Untuk mempertahankan "apa-apa"
Ketika hidup mengajari untuk
melepaskan, membebaskan, membiarkan.
Dengan segala kerendahan hati,
saya menjelma spasi,
menerbangkan mantra
dengan semoga.
Komentar
Posting Komentar