Ia sudah rapuh,
bukan karna usia,
tapi karna terpaan badai terlalu hebat,
datang ketika akarnya masih mencari cahaya,
mencari celah, mencari arah.
Akarnya belum sempurna.
Ia tak tahu diantara gerimis dan rintik embun,
mana yang memperlambat laju hidupnya.
Ia kecewa.
Yang ia tahu,
semua adalah air Tuhan yang turun.
Ia tak tahu,
ketika mendobrak dinding rumah cacing tanah,
menghancurkan telur mereka apakah suatu dosa.
Ia masih belia,
rapuh karena ketidaktahuan
lalu punah karena ketidakberdayaan.
Malang.
Dan menyakitkan.
Komentar
Posting Komentar