Terima kasih, karena beriringan denganmu,
aku tidak
harus menjadi jalan lurus yang harus ditapaki dengan benar,
aku bisa
menjadi sungai kecil yang kadang sesekali belok,
boleh keruh,
boleh surut, boleh meluap, kadang diam,
dan boleh
tidak tenang asal tetap mengalir ke arah penguasa langit.
Terima kasih
sudah tidak berharap aku menjadi bintang
saat aku hanya
mampu menjadi lampu pelita.
Redup dan
remang. Namun tetap kau izinkan aku perlahan bersinar.
Terima kasih
tak memaksaku menjadi udara segar dan harum agar nyaman kau hirup,
namun tetap
kau ajarkan tumbuh, mekar, bersih dan tetap hidup.
Dan di semesta
yang menuntuku menjelma logam; keras,
bersinar, kelap, tak bercela,
kau izinkan
aku menjadi air; dingin, hening, tak berwarna, tawar dan tak ber-rupa.
Padamu, gagal
bukan cacat, tapi pelajaran.
Salah bukan
kesalahan, tapi mencari arah,
diam bukan
hampa, tapi jeda.
Dan tak kuat
bukan kalah, tapi manusia.

Komentar
Posting Komentar