Kau tau betapa sulitnya mendulang sabar
hingga ia benar-benar masuk ke kerongkongan untuk menyatu dalam darah.
Kau tak tau bagaimana getirnya tekad penuh harapan.
Dan kau tak pernah benar-benar tahu tentang isi hatiku bukan?
Lalu bagaimana kau bisa berkata kau memahamiku?
Bahkan untuk minuman kesukaanku pun kau tak tahu.
Lalu dengan gagah perkasanya kau bilang
kau seseorang yang gigih
dan aku menjadi tersangka
karena tidak bisa melupakan masa laluku
yang kemudian dengan beringas merobek-robek isi hatimu.
Maaf Tuan,
belajar dari pengalaman tidak semudah dan sesederhana kalimatnya.
Dan apakah menurut tuan, seseorang yang baru saja memulai tapi memilih mundur,
bisa dikatakan sebagai seseorang yang gigih?
Wahai Tuan, jika gigih yang kau maksud seperti mundur sebelum berjuang.
Maka bagiku itu adalah pecundang.
Komentar
Posting Komentar