Dilihatnya
putaran jarum jam
Dirasakannya
degub detik dalam sunyi,
Seduhan
teh hangat dan buku tua entah berapa telah dilahapnya.
Tua
renta,
berjuta-juta
sumur rahasia mimpi dipeluknya
Untuk
disingkap menjadi nyata
Semangatnya
deras bak air terjun para dewa.
Itu
dia dulunya dewa pujangga
Sekarang
mengabdi hidup untuk membaca
Berusaha
menghibur anak desa lewat dongeng dan ratusan cerita
Mimpinya
mencerdaskan para pemuda bangsa.
Ini
aku pemuda biasa,
Badut
dalam sandiwara
Yang
hanya jadi penonton para ksatria
Melawan
musuh, mempertaruhkan jiwa raga.
Ini
aku pemuda biasa,
Penuh
sesal penuh dosa
Yang
hanya sembunyi dalam gemerlap malam gulita
Yang
selalu redup semangatnya.
Pada
langit malam yang kucinta,
Semoga
ia tak membunuh tuannya,
Karna lalai saat
muda, saat masanya masih perkasa
Komentar
Posting Komentar